TIGA KATA YANG TERLUPAKAN
Ardi berlalu begitu saja setelah ia membayar ongkos ojeg yang ia tumpangi,
jalannya tergesa-gesa. Yup, ia
terburu-buru karena hampir terlambat masuk kelas, alasannya klasik,
"macet". Dalam hatinya berkata beruntung ia terbantu oleh fasilitas
ojeg yang mahir berselap-selip diantara kerumunan kendaraan-kendaraan mewah
Jakarta. Ups, tapi ia lupa sesuatu, berkata TERIMA
KASIH pada pak ojeg. Hal yang remeh memang, dan cenderung sering
diremehkan oleh kebanyakan orang.
Yuli, seorang akhwat yang selalu sibuk dengan
agenda-agendanya yang padat, datang telat satu jam kerapat organisasi. Simple
juga, hanya ucapkan "Assalamu′alaikum" lalu duduk dengan manis di
kerumunan teman-temannya tanpa pernah berpikir untuk mengucapkan MAAF. Padahal ia termasuk orang yang
ditunggu-tunggu dalam rapat itu. Maklum dia adalah ketua sie acara yang
notabene harus selalu memberikan progress report yang berkala.
Irman adalah seorang Presiden Mahasiswa di
kampusnya. Ia termasuk orang yang lugas dalam memberikan instruksi. "Anto,
bawakan proposal yang harus saya tandatangani keruangan saya". "Rina,
ketik surat ini dan secepatnya kirim!" "Mas somay, pesen somay
sepiring, gak make lama ya..!!" Wah, sangking lugasnya ada sebuah kata
berharga yang ia lupa. TOLONG.
Fenomena-fenomena diatas sering kita temui di
sekeliling kita. Mungkin bahkan tidak jauh-jauh, kita juga sering melakukannya.
Betul?
TERIMA KASIH, atau bahasa aktivis gaulnya SYUKRON, seringkali terlupa. Allah
berfirman:
"Dan tanah yang baik,
tanaman-tanamannya tumbuh subur dengan seizin Allah; dan tanah yang tidak
subur, tanaman-tanamannya hanya tumbuh merana. Demikianlah Kami mengulangi
tanda-tanda kebesaran (Kami) bagi orang-orang yang bersyukur." (Al A'raaf : 58)


